Minggu, 17 Januari 2016

Reading Challenge 2016

Sudah beberapa tahun ini Goodreads.com menggelar event Reading Challenge. Tahun 2016 ini, aku tak ingin luput untuk ikut berpartisipasi. Target bacaku tahun ini masih kupatok 24 buku dalam rentang 12 bulan. Tahun 2015 dan 2014 target itu luput, tapi aku tak ingin menurunkan target, berharap tahun ini aku bisa sukses menyelesaikan 24 buku untuk dibaca dalam setahun. Sok sibuk amat ya kelihatannya, masa sih menamatkan 24 buku dalam setahun saja tak sukses? Tapi mengingat kesibukanku sehari-hari, ya memang kadang kebutuhan membaca kalah oleh keinginan untuk tidur. Hehe... Dan segera kumulai aktivitas membacaku di tahun ini, kumulai dengan membuka lembaran buku yang baru kubeli di pasar buku Palasari di masa liburan lalu. 
Dimulai dengan sebuah buku yang kubawa pulang dari rak toko buku di pasar buku Palasari Bandung. Dari sekian banyak buku yang mencuri perhatianku, akhirnya kujatuhkan pilihan pada 3 buah buku yang kurasa tak akan terlalu mengoyak dompetku :p Buku pertama yang kutuntaskan untuk dibaca di tahun 2016 ini adalah Tokyo Tower. Dan berikutnya, sudah banyak buku dalam antrian, menunggu untuk dituntaskan. Aku siap membaca secara simultan, dua buku sekaligus. Uhm.. bergantian juga siih, sebetulnya :p
Goodreads memberi alat dukung berupa beragam tools dan fitur yang bisa digunakan untuk memantau perkembangan target baca kita. Ada 3 widget yang masih kupasang di blog ini, biarpun sudah kadaluarsa, sebetulnya :p Ada juga tautan yang bisa disetel untuk otomatis ter-update ke jejaring sosial. Ini jadi pengingat untuk memantau perkembangan target baca yang sudah kutetapkan.
Tapi sebetulnya, buat apa juga sih pakai target target baca segala? Sebuah quote yang menggelitik kudapat dari situs goodreads.com. Membuatku tersenyum sedikit saat membacanya.
Buatku, membaca itu jadi sarana referensi, jadi sarana belajar mengenai kualitas buku yang layak terbit. Aku masih bercita-cita ingin menerbitkan naskahku menjadi buku. Maka dari itu aku harus banyak belajar, membaca beragam buku untuk mempelajari seluk-beluk cerita dan konflik serta penyelesaian dalam sebuah novel, penggambaran karakter, pemaparan alur cerita, setting, dan lain sebagainya. Selain itu, ada juga buku-buku motivasi yang kubaca sebagai sarana untuk menyemangati diri sendiri. Ingin juga mengukur diri sendiri, ketika kunyatakan diri sebagai penyuka baca, kadang aku sendiri perlu bukti untuk mengukur diri. Masa iya juga sih, penyuka baca cuma kuat menamatkan buku 12 buku saja dalam setahun? (Buatku, buku yang layak masuk kriteria untuk dicatatkan dalam rekor Goodreads itu yang 100-an halaman ke atas-lah. Jieeeeh :p) Selain itu, untuk menikmati buku itu sendiri, dan... untuk 'sok-sokan' tentangnya (di Goodreads)? Ahaha... yang terakhir enggaklah.

Minggu, 17 Mei 2015

Si Kuning Jenjang

jenjang
ramping 
bak gadis remaja berdiet
menjaga makanannya 
agar tetap bersahaja
mengintip bunga...
di sela daun langsing
berharap diperhatikan 
oleh pemuda yang lewat
cantik tanpa bersolek
karena engkau memang indah
ingin kuberkenalan denganmu
gadis cantikku
kan kujadikan engkau
bungaku

Minggu, 10 Mei 2015

Bakung Merah

Bagai bersimbah darah
Dalam perjuangan yang gagah
Berdiri tegak, merah merekah
Dalam taman di hari yang cerah
Bakung merah, Sungguh indah
Kaubuat tamanku cerah

Rabu, 29 April 2015

Puisi Pisang-pisangan


bergelantung menggapai bumi
lenganmu terulur jauh
Selalu ingin kembali ke bumi
tanah tempat hidupmu
cantik…
aku ingin belajar darimu

Sabtu, 18 Oktober 2014

Giveaway Buku

Beberapa waktu lalu aku mengikuti event generous, giveaway buku yang digelar mbak Sinta Nisfuanna, seorang teman yang kukenal melalui salah satu milis. Dari event giveaway itu, aku dapat satu buku yang kuincar, plus satu buku lagi sebagai bonus. Terima kasih banyak yaa, mbak Sinta.
Kali ini, aku harus melanjutkan misi #GiveawayBuku yang sudah dimulai entah oleh siapa. Tapi semangat berbagi buku, harus terus berlanjut.
Buku-buku yang ingin kubagi adalah buku-buku yang menginspirasi. Semua buku berawal dari kisah nyata. Semoga kita yang membaca bisa mengambil hikmah dari pengalaman mereka.


  • Yang pertama adalah Ainun & Habibie, Kisah salah seorang tokoh besar Indonesia dalam perjalanan menjalani karirnya didampingi oleh istri tercinta. Buku yang ditulis sebagai suatu proses penyembuhan batin pastinya akan keluar dari hati. Kehilangan separuh jiwa yang dialami BJ Habibie memaksanya untuk menjalani terapi menulis yang membuahkan karya indah. Di buku ini BJ Habibie bercerita pertemanannya dengan Ainun di masa sekolah hingga bertemu kembali bertahun kemudian setelah keduanya menyelesaikan kuliah di tempat yang berbeda.
Kebersamaan keduanya diawali dengan kerja keras baik dari sang suami maupun sang istri yang kelak terbukti dalam membentuk pondasi yang kuat dalam kehidupan pernikahan mereka. Ikatan pernikahan yang akhirnya menyatukan keduanya dalam jiwa yang dibahasakan oleh BJ Habibie sebagai manunggal .
Kita akan banyak belajar untuk saling mengasihi, saling menghormati, yang memberikan kekuatan bagi mereka yang tulus menjalankannya. (disarikan dari review Mardiyati di Goodreads)

  • Yang berikutnya adalah kisah seorang tokoh Indonesia lainnya, Dahlan Iskan, dalam buku Sepatu Dahlan. Hingga saat ini ada sekitar 140-an review tentang buku ini di Goodreads. Perjalanan hidup Dahlan Iskan sejak masa kecil hingga masa aliyahnya. Dipaparkan dalam bentuk novel yang ringan dan inspiratif. Dengan gaya bercerita flashback di beberapa bagian, gaya bahasa yang ringan walalu kadang berbunga-bunga, penulisnya mampu membawa rasa hati pembaca ke level emosi yang pernah dijalani Dahlan Iskan kecil. Berempatilah kita jadinya.
  • Buku berikutnya adalah karya keroyokan dari beberapa pengajar muda dalam program Indonesia Mengajar yang digagas Anies Baswedan. Buku ini berisi pengalaman mereka ketika ditempatkan untuk berinteraksi dengan murid dan masyarakatnya di berbagai daerah di pelosok Indonesia. Pengalaman-pengalaman lucu, unik, menarik, mengharukan atau menggembirakan, semuanya inspiratif. Sayang untuk melepas buku ini, karena begitu banyak kisah menarik di dalamnya. Tapi jika lebih banyak orang yang membacanya, tentu kisah inspiratif ini akan menyebar lebih luas lagi, menginspirasi lebih banyak orang. 
  • Buku berikutnya adalah Ibuk, karya seorang Iwan Setyawan, yang kembali ke Indonesia setelah 10 tahunan meniti sukses di Amerika. Ibuk adalah inspirasinya, sosok pertama yang membentuknya jadi seorang yang seperti sekarang ini. Lagi, buku ini menginspirasi. Baca dulu reviewnya di goodreads sebelum memutuskan untuk memilih buku ini. Kalau nggak makin tertarik, cek buku lain aja. ;)
  • Buku terakhir yang kutawarkan adalah lagi-lagi karya keroyokan. Tapi kali ini adalah tulisan tentang guru-guru yang menginspirasi. Menjadi Guru Inspiratif, buku ini berisi 14 kisah nyata inspiratif mereka yang menjadi guru. Kisah-kisah mengharukan dengan suka duka saat menjalani pengabdian menjadi guru bangsa. Mencerdaskan para generasi, yang kata Ahmad Fuadi sebagai petani peradaban. Buku yang layak dibaca para guru, orang tua dan seluruh manusia yang pernah memiliki seorang yang bernama guru. (Reviewnya M. Rasyid Ridho di Goodreads)

Nah, salah satu buku ini bisa dimiliki gratis. Bahkan ongkos kirim pun tanggung jawabku. Yang perlu dilakukan oleh pembaca hanya berkomentar di blog ini, menyebutkan buku yang diinginkan. Berteman yuk di facebook, supaya nanti bisa berkirim pesan, saat konfirmasi alamat kirim. Satu buku nggak bisa diminta oleh dua orang atau lebih yaa. Jadi kalau sudah ada yang menginginkan satu buku tertentu, yang berikutnya, silakan incar buku lainnya.
Satu kewajiban penerima buku ini adalah, meneruskan kembali tradisi berbagi buku ini dalam event yang disebut dengan #PayItForward Jadi, setelah menerima salah satu buku ini, siap-siap untuk membagikan 5 buku dari koleksimu untuk dibagikan juga. Jangan lupa, mention saya di facebook ya. Yuk, berbagi.

Sabtu, 21 Desember 2013

Perjalanan Hanum dan Rangga Menemukan Jejak Cahaya di Langit Eropa

Akhirnya nonton jugaaa...! Setelah was-was berhari-hari, takut filmnya keburu turun, soalnya sudah 3 pekan di layar perak bioskop Indonesia. Tapi tidak main-main nih film, dalam waktu 3 pekan tayang di bioskop, rekor penontonnya sebentar lagi menyalip 'Cinta Brontosaurus'. Penontonnya -dalam 3 pekan ini- mencapai angka 800.000 penonton dan masih terus bergerak naik.
Sumber gambar: official movie trailer
Berbeda dengan bukunya? Well.. itu tak mengapa, aku masih sangat bisa menikmati filmnya. Diawali dengan narasi yang terasa cukup panjang di awal film ini, kunikmati momen demi momen di layar, untuk mencari kerlip 99 cahaya di film ini. Tapi ada beberapa hal kecil yang jadinya terasa sedikit mengganggu. Ada beberapa detil yang kurasa tak tergarap dengan cukup baik.
Beberapa scene Rangga, misalnya, yang dalam film diceritakan sebagai sekuens yang terjadi secara berurutan. Pada saat diskusi dengan prof. Reindhart, dia mengenakan kemeja kotak-kotak biru dan tas selempang yang kurus, tidak membawa apa-apa lagi. Tapi pada adegan pulang bersama Khan, perhatikan kemeja kotak-kotaknya. Motifnya beda ;) Dilanjut dengan scene selanjutnya ketika dia berdiri di stasiun kereta, kemeja kotak-kotaknya ganti lagi, seperti yang dikenakannya ketika bertemu Prof. Reindhart, dilengkapi dengan jaket tipis yang dipakainya ketika bersama Khan.
Perhatikan corak kotak kemeja yang dikenakan Rangga.

Satu detil lainnya yang membuat moment itu menjadi janggal adalah ketika Rangga membaca Al Quran di perpustakaan. Bacaannya bagus, makhrajnya terasa pas, dengan irama lantunan yang indah. Syahdu. Jika Anda bukan seorang muslim, tak ada yang aneh dengan itu. Tapi bagi muslim, coba cek pendengaran dan penglihatan Anda. Ketika Rangga membalik halaman quran dan melanjutkan membaca, lho??? Bacaannya kok nggak sesuai dengan tulisan di mushaf Al Quran?
Satu lagi sajalah Scene yang ingin ku-highlight kritisi di film ini, yaitu saat Hanum dan Rangga usai bertemu dengan Marion Latimer. Terlihatkah adanya sedikit kejanggalan di situ? Saat itu Hanum dititipi oleh Marion selembar surat dan satu pak bungkusan untuk Fatma dan Ayse. Di acara jalan-jalan itu Hanum tidak membawa tas besar, hanya tas selempang kecil saja, yang sangat mungkin dompetku tak akan muat di dalamnya. Jadi ditentenglah bungkusan itu. Tapi di menara Eiffel, saat mereka meneropong keindahan kota Paris dari ketinggian menara Eiffel hingga Rangga mengumandangkan adzan di sana, di manakah gerangan bungkusan itu adanya? Rangga tak pegang, Hanum pun tidak. Jangan katakan bahwa crew film yang mengamankan bungkusan itu :p
Tapi lepas dari detil-detil kecil itu -yang sangat bisa diminimalisasi di 99 Cahaya bagian 2 nanti- film ini cantik. Menyaksikan buku yang bertransformasi menjadi rangkaian gambar bergerak, mari berusaha menetralkan perasaan. Nikmati dulu film ini sebagai film, bukan buku yang 'berubah wujud'. Beberapa perbedaan antara buku dan film terlihat cukup kentara, misalnya usia Ayse atau peran Marion. Untuk yang sudah membaca bukunya terlebih dahulu, perbedaan ini tentu terasa sedikit 'mengganjal'. Tapi baik untuk yang sudah maupun belum membaca bukunya, film ini tetap membawa pesan keindahannya tersendiri, menguak satu demi satu keindahan cahaya dari benua biru Eropa itu. 
Keindahan ragam bangunan bergaya khas Eropa, sungguh menginspirasi, membuat ngiler untuk tidak kalah bermimpi tinggi, untuk suatu saat bisa melihat dengan mata kepala sendiri, merabai dinding gedung-gedung yang menyimpan jejak sejarah itu dengan jemari sendiri. Busana para pemain wanita tak kalah cantik dan fashionable. Jaket panjang bermotif kotak hijau muda yang dikenakan Fatma, terlihat jelas merupakan karya penjahit bermutu. Jaket merah Hanum terlihat sangat iconic. Sedangkan coat biru yang dikenakan Marion di pertemuan terakhir mereka pun terlihat cantik sekali. Anggun dan chic
Para pemain yang terlibat di film ini sudah familiar wara-wiri di layar kaca. Mereka adalah aktor dan aktris terpilih. Itu tidak diragukan. Banyak gambar-gambar close up mereka di film ini, tapi kurasa. tidak berlebihan, dan memang tampak indah di layar. Thanks to Wardah yang jadi salah satu sponsor ;) Okelah, di beberapa bagian film ini, produk Wardah mesti muncul, dan kurasa kemunculannya cukup wajar tanpa terlihat dipaksakan. Selain itu, semua aktor dan aktris juga didandani dengan produk Wardah kan...? Yang terlihat (lagi-lagi) agak janggal adalah dandanan teman-teman Fatma di rumahnya. Umm...rasanya dandanannya agak terlalu tebal untuk ukuran acara kumpul-kumpul bersama teman. Wardah bisa kan mendandani dengan efek natural? Tak akan susah rasanya. Toh sebetulnya tanpa make-up pun, para cameo ini, mbak Dian Pelangi dan mbak Hanum Rais sendiri, sudah cantik-cantik kok. 
Boleh cek, misalnya adegan Hanum di apartemen mereka. Dalam beberapa kesempatan, Acha Septriasa yang berperan sebagai Hanum terlihat polos tanpa eyeliner atau lipstick, tapi tentu saja tetap cantik terlihat di layar. Yang muncul di layar itu adalah kekuatan akting, karena film ini bukan sekedar jualan tampang. Ekspresi Acha beberapa kali terlihat sangat original, terutama saat terkait dengan kerudung yang belum dikenakannya. "Kenapa sih kamu ngelihatin aku kayak gitu?" seperti yang diucapkannya pada pemeran Rangga di salah satu scene. Saltingnya, groginya, terlihat. Acha pinter deh aktingnya. Sebagai seorang multitalent, dengan potensi yang dimilikinya sebagai aktris yang juga punya suara bagus, rasanya sayang sekali jika suara merdunya tidak ikut muncul menghiasi film ini sebagai soundtract. Kan asyik tuh kalau bisa sekalian akting dan nyanyi sepaket. Kita tunggu saja di bagian ke-2nya nanti ya. Sabar yaa, karena bagian 2 film ini baru dijadwalkan tayang di bulan Maret 2014 nanti. 
Menanti bagian ke-2nya tayang di tahun depan.
Mungkin saat ini proses shooting masih berjalan untuk mempersiapkan sekuel film ini. Sutradara Guntur Soeharjanto kurasa cukup berhasil menterjemahkan buku ini ke dalam sebuah film. Selain detil-detil kecil yang tadi sudah kukritisi, beberapa fakta kecil yang juga mengganggu semoga bisa diperbaiki di bagian ke-2 nanti. Film ini sudah sukses kok membuat penasaran penonton dan pada saat yang bersamaan, menginspirasi. Aku yakin, makin banyak muslim yang bertekad untuk menjadi agen muslim yang baik setelah menonton film ini. Misalnya belajar menahan diri untuk tidak melakukan konfrontasi terbuka pada orang yang memprovokasi kemusliman kita, seperti apa yang dilakukan Fatma terhadap 2 turis yang menghina muslim Turki melalui perlambang roti croissant yang mereka makan. Atau bersikap tenang seperti Rangga saat Steffan yang diperankan oleh Nino Fernandez berkali-kali mengajaknya berdiskusi (diskusi atau ngajak kelahi sih...? :p) tentang konsep keimanan dan ketuhanan. Tokoh Marion yang mungkin tak akan muncul lagi di sekuel film ini sudah membuka jalan menuju rahasia Islam masa silam melalui artefak yang terserak tersebar di keluasan benua biru itu. Membuatku makin yakin dan cinta dengan agama yang kuanut saat ini. Makin memantapkan hati untuk ikut serta jadi agen muslim yang baik, melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Aku yakin, Hanum dan segenap tim produksi film ini akan makin aware pada detil-detil kecil untuk tetap menginspirasi penonton, misalnya dengan menangkap momen para aktor dan aktris di film ini yang makan dan minum dengan tangan kanan, tak lupa sambil duduk tentunya. Kunantikan juga kisah-kisah cahaya lain dari Eropa yang membuat bangga kita sebagai umat Islam, tidak hanya bangga dengan kejayaan Islam di masa silam, tapi juga menyemangati dan menginspirasi untuk selalu jadi agen muslim yang baik di masa kini dan masa depan. Keep inspiring, will you.