Tampilkan postingan dengan label Hanum Rais. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hanum Rais. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2013

Perjalanan Hanum dan Rangga Menemukan Jejak Cahaya di Langit Eropa

Akhirnya nonton jugaaa...! Setelah was-was berhari-hari, takut filmnya keburu turun, soalnya sudah 3 pekan di layar perak bioskop Indonesia. Tapi tidak main-main nih film, dalam waktu 3 pekan tayang di bioskop, rekor penontonnya sebentar lagi menyalip 'Cinta Brontosaurus'. Penontonnya -dalam 3 pekan ini- mencapai angka 800.000 penonton dan masih terus bergerak naik.
Sumber gambar: official movie trailer
Berbeda dengan bukunya? Well.. itu tak mengapa, aku masih sangat bisa menikmati filmnya. Diawali dengan narasi yang terasa cukup panjang di awal film ini, kunikmati momen demi momen di layar, untuk mencari kerlip 99 cahaya di film ini. Tapi ada beberapa hal kecil yang jadinya terasa sedikit mengganggu. Ada beberapa detil yang kurasa tak tergarap dengan cukup baik.
Beberapa scene Rangga, misalnya, yang dalam film diceritakan sebagai sekuens yang terjadi secara berurutan. Pada saat diskusi dengan prof. Reindhart, dia mengenakan kemeja kotak-kotak biru dan tas selempang yang kurus, tidak membawa apa-apa lagi. Tapi pada adegan pulang bersama Khan, perhatikan kemeja kotak-kotaknya. Motifnya beda ;) Dilanjut dengan scene selanjutnya ketika dia berdiri di stasiun kereta, kemeja kotak-kotaknya ganti lagi, seperti yang dikenakannya ketika bertemu Prof. Reindhart, dilengkapi dengan jaket tipis yang dipakainya ketika bersama Khan.
Perhatikan corak kotak kemeja yang dikenakan Rangga.

Satu detil lainnya yang membuat moment itu menjadi janggal adalah ketika Rangga membaca Al Quran di perpustakaan. Bacaannya bagus, makhrajnya terasa pas, dengan irama lantunan yang indah. Syahdu. Jika Anda bukan seorang muslim, tak ada yang aneh dengan itu. Tapi bagi muslim, coba cek pendengaran dan penglihatan Anda. Ketika Rangga membalik halaman quran dan melanjutkan membaca, lho??? Bacaannya kok nggak sesuai dengan tulisan di mushaf Al Quran?
Satu lagi sajalah Scene yang ingin ku-highlight kritisi di film ini, yaitu saat Hanum dan Rangga usai bertemu dengan Marion Latimer. Terlihatkah adanya sedikit kejanggalan di situ? Saat itu Hanum dititipi oleh Marion selembar surat dan satu pak bungkusan untuk Fatma dan Ayse. Di acara jalan-jalan itu Hanum tidak membawa tas besar, hanya tas selempang kecil saja, yang sangat mungkin dompetku tak akan muat di dalamnya. Jadi ditentenglah bungkusan itu. Tapi di menara Eiffel, saat mereka meneropong keindahan kota Paris dari ketinggian menara Eiffel hingga Rangga mengumandangkan adzan di sana, di manakah gerangan bungkusan itu adanya? Rangga tak pegang, Hanum pun tidak. Jangan katakan bahwa crew film yang mengamankan bungkusan itu :p
Tapi lepas dari detil-detil kecil itu -yang sangat bisa diminimalisasi di 99 Cahaya bagian 2 nanti- film ini cantik. Menyaksikan buku yang bertransformasi menjadi rangkaian gambar bergerak, mari berusaha menetralkan perasaan. Nikmati dulu film ini sebagai film, bukan buku yang 'berubah wujud'. Beberapa perbedaan antara buku dan film terlihat cukup kentara, misalnya usia Ayse atau peran Marion. Untuk yang sudah membaca bukunya terlebih dahulu, perbedaan ini tentu terasa sedikit 'mengganjal'. Tapi baik untuk yang sudah maupun belum membaca bukunya, film ini tetap membawa pesan keindahannya tersendiri, menguak satu demi satu keindahan cahaya dari benua biru Eropa itu. 
Keindahan ragam bangunan bergaya khas Eropa, sungguh menginspirasi, membuat ngiler untuk tidak kalah bermimpi tinggi, untuk suatu saat bisa melihat dengan mata kepala sendiri, merabai dinding gedung-gedung yang menyimpan jejak sejarah itu dengan jemari sendiri. Busana para pemain wanita tak kalah cantik dan fashionable. Jaket panjang bermotif kotak hijau muda yang dikenakan Fatma, terlihat jelas merupakan karya penjahit bermutu. Jaket merah Hanum terlihat sangat iconic. Sedangkan coat biru yang dikenakan Marion di pertemuan terakhir mereka pun terlihat cantik sekali. Anggun dan chic
Para pemain yang terlibat di film ini sudah familiar wara-wiri di layar kaca. Mereka adalah aktor dan aktris terpilih. Itu tidak diragukan. Banyak gambar-gambar close up mereka di film ini, tapi kurasa. tidak berlebihan, dan memang tampak indah di layar. Thanks to Wardah yang jadi salah satu sponsor ;) Okelah, di beberapa bagian film ini, produk Wardah mesti muncul, dan kurasa kemunculannya cukup wajar tanpa terlihat dipaksakan. Selain itu, semua aktor dan aktris juga didandani dengan produk Wardah kan...? Yang terlihat (lagi-lagi) agak janggal adalah dandanan teman-teman Fatma di rumahnya. Umm...rasanya dandanannya agak terlalu tebal untuk ukuran acara kumpul-kumpul bersama teman. Wardah bisa kan mendandani dengan efek natural? Tak akan susah rasanya. Toh sebetulnya tanpa make-up pun, para cameo ini, mbak Dian Pelangi dan mbak Hanum Rais sendiri, sudah cantik-cantik kok. 
Boleh cek, misalnya adegan Hanum di apartemen mereka. Dalam beberapa kesempatan, Acha Septriasa yang berperan sebagai Hanum terlihat polos tanpa eyeliner atau lipstick, tapi tentu saja tetap cantik terlihat di layar. Yang muncul di layar itu adalah kekuatan akting, karena film ini bukan sekedar jualan tampang. Ekspresi Acha beberapa kali terlihat sangat original, terutama saat terkait dengan kerudung yang belum dikenakannya. "Kenapa sih kamu ngelihatin aku kayak gitu?" seperti yang diucapkannya pada pemeran Rangga di salah satu scene. Saltingnya, groginya, terlihat. Acha pinter deh aktingnya. Sebagai seorang multitalent, dengan potensi yang dimilikinya sebagai aktris yang juga punya suara bagus, rasanya sayang sekali jika suara merdunya tidak ikut muncul menghiasi film ini sebagai soundtract. Kan asyik tuh kalau bisa sekalian akting dan nyanyi sepaket. Kita tunggu saja di bagian ke-2nya nanti ya. Sabar yaa, karena bagian 2 film ini baru dijadwalkan tayang di bulan Maret 2014 nanti. 
Menanti bagian ke-2nya tayang di tahun depan.
Mungkin saat ini proses shooting masih berjalan untuk mempersiapkan sekuel film ini. Sutradara Guntur Soeharjanto kurasa cukup berhasil menterjemahkan buku ini ke dalam sebuah film. Selain detil-detil kecil yang tadi sudah kukritisi, beberapa fakta kecil yang juga mengganggu semoga bisa diperbaiki di bagian ke-2 nanti. Film ini sudah sukses kok membuat penasaran penonton dan pada saat yang bersamaan, menginspirasi. Aku yakin, makin banyak muslim yang bertekad untuk menjadi agen muslim yang baik setelah menonton film ini. Misalnya belajar menahan diri untuk tidak melakukan konfrontasi terbuka pada orang yang memprovokasi kemusliman kita, seperti apa yang dilakukan Fatma terhadap 2 turis yang menghina muslim Turki melalui perlambang roti croissant yang mereka makan. Atau bersikap tenang seperti Rangga saat Steffan yang diperankan oleh Nino Fernandez berkali-kali mengajaknya berdiskusi (diskusi atau ngajak kelahi sih...? :p) tentang konsep keimanan dan ketuhanan. Tokoh Marion yang mungkin tak akan muncul lagi di sekuel film ini sudah membuka jalan menuju rahasia Islam masa silam melalui artefak yang terserak tersebar di keluasan benua biru itu. Membuatku makin yakin dan cinta dengan agama yang kuanut saat ini. Makin memantapkan hati untuk ikut serta jadi agen muslim yang baik, melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Aku yakin, Hanum dan segenap tim produksi film ini akan makin aware pada detil-detil kecil untuk tetap menginspirasi penonton, misalnya dengan menangkap momen para aktor dan aktris di film ini yang makan dan minum dengan tangan kanan, tak lupa sambil duduk tentunya. Kunantikan juga kisah-kisah cahaya lain dari Eropa yang membuat bangga kita sebagai umat Islam, tidak hanya bangga dengan kejayaan Islam di masa silam, tapi juga menyemangati dan menginspirasi untuk selalu jadi agen muslim yang baik di masa kini dan masa depan. Keep inspiring, will you.

Minggu, 01 September 2013

Lomba resensi novel perioda 2, sudah DITUTUP ~ Hanum Rais

Novel perjalanan karya Hanum Rais, 99 Cahaya di Langit Eropa dan Berjalan di Atas Cahaya, mengundang begitu banyak orang untuk membaca dan mengapresiasi. Review mengenai buku-buku ini sudah tersebar di berbagai media, cetak maupun elektronik. Aku sendiri pun mengetahui mengenai buku ini dari beberapa review yang pernah kubaca di media. Akhirnya, beli juga bukunya. Menikmati setiap katanya, meresapi maknanya.
Kemudian kuketahui ada lomba terkait buku ini, lomba foto bersama buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Aku sempat ikut serta berpartisipasi, tapi sayangnya, belum beruntung untuk mendapatkan hadiahnya, jalan-jalan ke salah satu negara di Eropa, Turki. Dan beberapa waktu kemudian, ada satu lomba lainnya terkait buku ini, lomba menulis resensi buku. Ah... terus terang, menulis resensi bukan termasuk bidang keahlianku. Kalau menulis curhatan dan kutuangkan dalam blog, itu aku suka, teramat suka. Tapi menulis resensi dengan tata aturan yang baku, ah... itu tidak sesuai dengan jiwaku. Jiaaah...
Lomba di periode pertama, terlewat kuikuti. Lomba periode kedua, yang tenggat waktunya akhir Agustus lalu, akhirnya bisa juga kuikuti. Dari 3 opsi cara mengikuti lomba ini, kupilih opsi ketiga, membuat video yang diunggah di YouTube. Kubuat file video berupa rangkaian gambar yang dipadu dengan lagu karyaku, kuikutkan video ini dalam lomba resensi tahap 2 ini.

Akhirnya Agustus pun lewat, Lomba resensi novel perioda 2, sudah DITUTUP ~ Hanum Rais
Kulihat namaku di urutan ke-8 dari 16 partisipan yang terdata hingga saat ini. Entah ya, apakah besok-lusa akan ada lagi informasi mengenai partisipan lainnya yang di-update oleh panitia (hm...? siapa sih panitianya? Mbak Hanum Rais dan team ya? :)) Ya, baiklah. Lomba sudah selesai digelar. Sekarang ini, hingga saatnya pengumuman, aku tinggal deg-degannya saja. Berharap menang? Setiap ikut lomba tentu ada harapan dan keinginan untuk memenangkan hadiahnya. Tapi apapun hasilnya, aku pasrahkan pada Allah, Sang Pemilik Cahaya. Dia tahu yang terbaik untukku. Bismillah saat menjalani semua langkah. Laa hawlaa walaa quwwata illaa billaah.

Minggu, 09 Juni 2013

Lomba Review Buku Berhadiah Umrah

Buku karya Hanum Salsabiela Rais, 99 Cahaya Di Langit Eropa merupakan sebuah fenomena. Menyambung kesuksesan buku itu, kisah berlanjut dengan sebuah buku lainnya, Berjalan di Atas Cahaya. Keduanya menarik, walaupun kisah di dalamnya terasa masih kurang panjang, menurutku. Masih ingin lanjutan kisah-kisah lainnya, penemuan cahaya di benua biru itu. Jadi ingin baca lagi, buat resensinya, publikasikan, dan dapatkan hadiah berupa paket umrah. Subhanallah. InsyaAllah.
Untuk mendapatkan hadiah semenarik itu, tentu perlu usaha ekstra. Tidak asal ikut serta, lalu sekedar menanti keberuntungan melalui undian. Cermati bukunya, tulis resensinya, publikasikan di media cetak atau media online. Persyaratan serta info lengkapnya bisa dilihat di sini.

Minggu, 27 Mei 2012

Meraup 99 Cahaya di Langit Eropa

Menapak jejak sejarah Islam melalui buku ini, aku merasa diajak ikut menyingkap satu demi satu berkas 99 cahaya di langit Eropa. Rumitnya rantai sejarah terpapar dengan begitu indah di buku ini, mengupas rahasia kejayaan Islam di masa lalu. Sangat menginspirasi. Wanna see them with my own eyes. Europe: my next destination, then ;) Insya Allah. 
Bersama 99 Cahaya di Langit Eropa.
Melalui buku ini aku belajar lagi beberapa fakta sejarah Islam di Eropa. Aku sempat belajar tentang sejarah (Seni Rupa dan peradaban) Islam ketika masih kuliah, yang disampaikan dengan cara begitu-begitu saja. Berbekal diktat hasil fotokopi yang gambar-gambarnya hitam buram agak tak jelas, mata kuliah itu tak pernah jadi favoritku. Tapi di buku ini, Hanum Rais bisa banget mengemas beberapa catatan sejarah peradaban Islam dan memaparkannya dengan manis. Jika ditambahkan beberapa gambar lagi dalam bukunya, kurasa buku ini bisa jadi referensi pendamping untuk mata kuliah sejarah seni rupa atau sejarah peradaban Islam :) 
Dalam buku ini, Hanum juga memaparkan beberapa fakta sejarah berupa adanya tautan antara Islam dengan Eropa di masa lalu yang disampaikan dengan gaya bertutur berupa fiksi dalam novel perjalanan ini. Dalam perjalanannya menjelajahi beberapa kota di Eropa, antara lain: Wina, Paris, Cordoba, Granada, dan Istanbul, Hanum seringkali mendapat teman pendamping perjalanan yang bergantian. Dari pendamping perjalanannya, Hanum mendapatkan berbagai fakta luar biasa yang kemudian dituturkannya dalam buku ini. Pernik-pernik fakta menarik ini, yang tidak diketahui banyak orang, menjadikan buku ini memiliki nilai tambah. Membuatku terperangah karena bukti-bukti menunjukkan bahwa sungguh, Islam pernah berjaya di Eropa sana.
Gaya bertutur Hanum dalam novel ini mengalir dengan lancar. Banyak pesan disampaikan dengan cara yang cantik. Tentang peradaban Islam yang (pernah) memukau, tentang keagungan tokoh-tokoh muslim masa lalu, juga ungkapan hati dan isi kepala sosok-sosok muslim/muslimah masa kini yang berhasil berdakwah dengan cara yang santun, menjadi agen muslim yang baik di Eropa sana. Masih sangat aplikatif untuk diterapkan di masa kini. 
Melalui tokoh Fatma, Hanum menyampaikan pesan dakwah yang cantik, untuk membalas perlakukan buruk non muslim dengan kebaikan (Hanum juga mengungkap fakta kecil tentang croissant). Fatma pun berhasil menjadi lulusan terbaik dalam kursus bahasa Jerman yang mereka ikuti, padahal dia 'hanyalah' muslimah biasa, seorang imigran dari Turki yang dengan caranya sendiri, sukses menjadi agen Islam yang baik.  
Melalui tokoh Marion yang menjadi pendamping Hanum selama di Paris dan mengunjungi Museum Louvre dan Arc de Triomphe, aku merasa ikut 'terseret' masuk untuk menelusuri "rahasia-rahasia" keagungan Islam di masa lalu yang mungkin tak banyak kita ketahui. Cantiknya La Grande Mosquée du Paris -masjid akbar Paris- pun rasanya seperti terbentang di depan mata melalui penuturan Hanum dalam buku ini. 
Melalui Der Wiener Deewan, sebuah restoran berkonsep "All you can eat, pay as you wish" di Wina, makna ikhlas dan syukur pun dipaparkan. Sungguh, jika kamu bersyukur maka Allah akan menambah nikmat itu.
Masih banyak lagi kepingan perjalanan Hanum yang membuatku tersadar, betapa Islam begitu mulia dan agung. Ajaran Islam adalah konsep yang paripurna, umatnya-lah yang membuat imej Islam menjadi buruk. Ketulusan Hanum untuk berbagi catatan pengalamannya melalui buku ini berhasil menginspirasi, menumbuhkan kembali rasa bangga sebagai seorang Muslim dan betapa indahnya agama Islam di saat banyak persepsi  negatif bermunculan.
Mencontoh Fatma, aku ingin menjadi agen Islam yang baik. Bismillah, semoga Allah memberi kemudahan. Selain itu, mencontoh penulis buku ini, Hanum, aku juga ingin menjelajah Eropa dan melihat sendiri berbagai peninggalan kejayaan Islam di masa lalu, mencocokkan data sejarah yang kudapat saat kuliah untuk kujadikan referensi agar bisa jadi agen Islam yang (lebih) baik. Insya Allah.