Tampilkan postingan dengan label Pusat Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pusat Bahasa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 September 2010

Lomba Blog Kebahasaan dan Kesastraan 2010

Tahun ini, Pusat Bahasa kembali menyelenggarakan lomba penulisan blog kebahasaan dan kesastraan. Kupikir, ini sebuah langkah yang baik untuk meningkatkan kepedulian masyarakat kepada bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu dan bahasa negara, sebagaimana tercantum dalam UUD 45 pasal 36 ini merupakan salah satu upaya untuk mengapresiasi minat dan bakat dalam berbahasa Indonesia yang kadang terpendam akibat serangan gencar gelombang globalisasi.
Tumbuhnya sekolah internasional di berbagai tempat, pernikahan multikultural, dan menipisnya batas global antarnegara dan budaya mempunyai andil dalam melunturnya kecintaan terhadap bangsa dan bahasa Indonesia sebagai bangsa dan bahasa sendiri. Sebagian anggota masyarakat merasa lebih bangga ketika pandai berbahasa Inggris, dan tidak malu mengakui kelemahan mereka dalam berbahasa Indonesia. Sebagian lagi merasa intelek dan terhormat ketika sering menyisipkan kata-kata asing dalam setiap ucap dan tuturnya -yang seringkali tidak sesuai dengan konteks dan kaidah kebahasaan-, yang membuat makin lemahnya kemampuan berbahasa Indonesia.
Adanya lomba blog kebahasaan dan kesastraan yang rutin diselenggarakan oleh Pusat Bahasa ini merupakan salah satu upaya untuk kembali mengakrabkan bahasa Indonesia kepada masyarakat Indonesia yang notabene (seharusnya) adalah pengguna aktif bahasa negara ini. Dengan ikut berpartisipasi dalam lomba ini, peserta lomba/blogger dipacu untuk aktif menggunakan bahasa Indonesia yang relatif baku, baik dan benar. Semakin sering para bogger ini menulis dan mempublikasikan buah pemikirannya dalam blog, maka semakin terasah pula kemampuan dan keterampilan menulisnya. Dengan demikian, bahasa Indonesia akan semakin sering dipergunakan, semakin dicintai dan semakin dibanggakan. Aku bangga berbahasa Indonesia. :)

Selasa, 09 Maret 2010

Pusat Bahasa

Beberapa waktu yang lalu, aku mencari data tertentu mengenai informasi kebahasaan, dan pencarian itu membawaku pada situs resmi Balai Bahasa Bandung, kemudian membawaku lebih jauh ke Pusat Bahasa Depdiknas. Salah satu informasi yang kurasa cukup menarik adalah mengenai penggunaan kata-kata jadian (bukan kata jadi-jadian) yang dibahas di bawah ini, kukutipkan dari sumber aslinya, yang bisa diakses di halaman ini.
Dalam bahasa Indonesia, imbuhan –wan berasal dari bahasa Sanskerta. Penggunaan akhiran itu digunakan bersama kata benda, seperti bangsawan ‘orang yang memiliki bangsa’, hartawan ‘orang yang memiliki harta’, dan rupawan ‘orang yang memiliki rupa yang elok’.
Dalam perkembangannya, arti –wan meluas. Hal itu ditemukan pada kata ilmuwan ‘orang yang ahli dalam bidang ilmu tertentu’, negarawan ‘orang yang ahli dalam bidang ilmu negara’, dan fisikawan ‘orang yang ahli dalam bidang fisika’. Jadi, -wan dalam contoh itu berarti orang yang ahli dalam bidang yang disebutkan pada kata dasarnya.
Pada kata seperti olahragawan, peragawan, dan usahawan, imbuhan –wan berarti ‘orang yang berprofesi dalam bidang yang disebutkan pada kata dasarnya’. Jadi, olahragawan berarti ‘orang yang berprofesi dalam bidang olahraga’, peragawan ‘orang yang berprofesi dalam bidang peragaan’, dan usahawan ‘orang yang berprofesi dalam bidang usaha (tertentu).
Berdasarkan contoh tersebut, imbuhan –wan tidak pernah melekat pada kata kerja, seperti pada kata rela. Oleh karena itu, kata yang benar adalah sukarelawan yang berarti ‘orang yang dengan sukacita melakukan sesuatu tanpa rasa terpaksa’.