Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 September 2013

Lomba resensi novel perioda 2, sudah DITUTUP ~ Hanum Rais

Novel perjalanan karya Hanum Rais, 99 Cahaya di Langit Eropa dan Berjalan di Atas Cahaya, mengundang begitu banyak orang untuk membaca dan mengapresiasi. Review mengenai buku-buku ini sudah tersebar di berbagai media, cetak maupun elektronik. Aku sendiri pun mengetahui mengenai buku ini dari beberapa review yang pernah kubaca di media. Akhirnya, beli juga bukunya. Menikmati setiap katanya, meresapi maknanya.
Kemudian kuketahui ada lomba terkait buku ini, lomba foto bersama buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Aku sempat ikut serta berpartisipasi, tapi sayangnya, belum beruntung untuk mendapatkan hadiahnya, jalan-jalan ke salah satu negara di Eropa, Turki. Dan beberapa waktu kemudian, ada satu lomba lainnya terkait buku ini, lomba menulis resensi buku. Ah... terus terang, menulis resensi bukan termasuk bidang keahlianku. Kalau menulis curhatan dan kutuangkan dalam blog, itu aku suka, teramat suka. Tapi menulis resensi dengan tata aturan yang baku, ah... itu tidak sesuai dengan jiwaku. Jiaaah...
Lomba di periode pertama, terlewat kuikuti. Lomba periode kedua, yang tenggat waktunya akhir Agustus lalu, akhirnya bisa juga kuikuti. Dari 3 opsi cara mengikuti lomba ini, kupilih opsi ketiga, membuat video yang diunggah di YouTube. Kubuat file video berupa rangkaian gambar yang dipadu dengan lagu karyaku, kuikutkan video ini dalam lomba resensi tahap 2 ini.

Akhirnya Agustus pun lewat, Lomba resensi novel perioda 2, sudah DITUTUP ~ Hanum Rais
Kulihat namaku di urutan ke-8 dari 16 partisipan yang terdata hingga saat ini. Entah ya, apakah besok-lusa akan ada lagi informasi mengenai partisipan lainnya yang di-update oleh panitia (hm...? siapa sih panitianya? Mbak Hanum Rais dan team ya? :)) Ya, baiklah. Lomba sudah selesai digelar. Sekarang ini, hingga saatnya pengumuman, aku tinggal deg-degannya saja. Berharap menang? Setiap ikut lomba tentu ada harapan dan keinginan untuk memenangkan hadiahnya. Tapi apapun hasilnya, aku pasrahkan pada Allah, Sang Pemilik Cahaya. Dia tahu yang terbaik untukku. Bismillah saat menjalani semua langkah. Laa hawlaa walaa quwwata illaa billaah.

Minggu, 27 Mei 2012

Meraup 99 Cahaya di Langit Eropa

Menapak jejak sejarah Islam melalui buku ini, aku merasa diajak ikut menyingkap satu demi satu berkas 99 cahaya di langit Eropa. Rumitnya rantai sejarah terpapar dengan begitu indah di buku ini, mengupas rahasia kejayaan Islam di masa lalu. Sangat menginspirasi. Wanna see them with my own eyes. Europe: my next destination, then ;) Insya Allah. 
Bersama 99 Cahaya di Langit Eropa.
Melalui buku ini aku belajar lagi beberapa fakta sejarah Islam di Eropa. Aku sempat belajar tentang sejarah (Seni Rupa dan peradaban) Islam ketika masih kuliah, yang disampaikan dengan cara begitu-begitu saja. Berbekal diktat hasil fotokopi yang gambar-gambarnya hitam buram agak tak jelas, mata kuliah itu tak pernah jadi favoritku. Tapi di buku ini, Hanum Rais bisa banget mengemas beberapa catatan sejarah peradaban Islam dan memaparkannya dengan manis. Jika ditambahkan beberapa gambar lagi dalam bukunya, kurasa buku ini bisa jadi referensi pendamping untuk mata kuliah sejarah seni rupa atau sejarah peradaban Islam :) 
Dalam buku ini, Hanum juga memaparkan beberapa fakta sejarah berupa adanya tautan antara Islam dengan Eropa di masa lalu yang disampaikan dengan gaya bertutur berupa fiksi dalam novel perjalanan ini. Dalam perjalanannya menjelajahi beberapa kota di Eropa, antara lain: Wina, Paris, Cordoba, Granada, dan Istanbul, Hanum seringkali mendapat teman pendamping perjalanan yang bergantian. Dari pendamping perjalanannya, Hanum mendapatkan berbagai fakta luar biasa yang kemudian dituturkannya dalam buku ini. Pernik-pernik fakta menarik ini, yang tidak diketahui banyak orang, menjadikan buku ini memiliki nilai tambah. Membuatku terperangah karena bukti-bukti menunjukkan bahwa sungguh, Islam pernah berjaya di Eropa sana.
Gaya bertutur Hanum dalam novel ini mengalir dengan lancar. Banyak pesan disampaikan dengan cara yang cantik. Tentang peradaban Islam yang (pernah) memukau, tentang keagungan tokoh-tokoh muslim masa lalu, juga ungkapan hati dan isi kepala sosok-sosok muslim/muslimah masa kini yang berhasil berdakwah dengan cara yang santun, menjadi agen muslim yang baik di Eropa sana. Masih sangat aplikatif untuk diterapkan di masa kini. 
Melalui tokoh Fatma, Hanum menyampaikan pesan dakwah yang cantik, untuk membalas perlakukan buruk non muslim dengan kebaikan (Hanum juga mengungkap fakta kecil tentang croissant). Fatma pun berhasil menjadi lulusan terbaik dalam kursus bahasa Jerman yang mereka ikuti, padahal dia 'hanyalah' muslimah biasa, seorang imigran dari Turki yang dengan caranya sendiri, sukses menjadi agen Islam yang baik.  
Melalui tokoh Marion yang menjadi pendamping Hanum selama di Paris dan mengunjungi Museum Louvre dan Arc de Triomphe, aku merasa ikut 'terseret' masuk untuk menelusuri "rahasia-rahasia" keagungan Islam di masa lalu yang mungkin tak banyak kita ketahui. Cantiknya La Grande Mosquée du Paris -masjid akbar Paris- pun rasanya seperti terbentang di depan mata melalui penuturan Hanum dalam buku ini. 
Melalui Der Wiener Deewan, sebuah restoran berkonsep "All you can eat, pay as you wish" di Wina, makna ikhlas dan syukur pun dipaparkan. Sungguh, jika kamu bersyukur maka Allah akan menambah nikmat itu.
Masih banyak lagi kepingan perjalanan Hanum yang membuatku tersadar, betapa Islam begitu mulia dan agung. Ajaran Islam adalah konsep yang paripurna, umatnya-lah yang membuat imej Islam menjadi buruk. Ketulusan Hanum untuk berbagi catatan pengalamannya melalui buku ini berhasil menginspirasi, menumbuhkan kembali rasa bangga sebagai seorang Muslim dan betapa indahnya agama Islam di saat banyak persepsi  negatif bermunculan.
Mencontoh Fatma, aku ingin menjadi agen Islam yang baik. Bismillah, semoga Allah memberi kemudahan. Selain itu, mencontoh penulis buku ini, Hanum, aku juga ingin menjelajah Eropa dan melihat sendiri berbagai peninggalan kejayaan Islam di masa lalu, mencocokkan data sejarah yang kudapat saat kuliah untuk kujadikan referensi agar bisa jadi agen Islam yang (lebih) baik. Insya Allah.

Sabtu, 10 April 2010

Anak Kos Dodol Kumat Lagi

Awalnya kubeli buku AKDKL ini dengan pertimbangan bahwa keponakanku yang sulung akan segera masuk masa kuliah. Dia sangat berminat kuliah di Bandung, mengikuti jejak langkah tantenya sebagai mahasiswi Seni Rupa ITB (hehe... padahal ibunya setengah hati mendukung. Takut anaknya jadi setengah gila seperti aku. Kaliii. :p)
Sebelum buku itu kuberikan pada Tasya, ponakanku, tentunya buku itu harus lewat badan sensor lebih dulu, yaitu aku (emang cita-cita sih, jadi anggota badan sensi eh sensor). Tampilan bukunya yang ‘menor’ kali ini, dengan warna merah menyala setelah buku-buku sebelumnya putih saja, bikin semangat ikut membara untuk membacanya. Lubang-lubang di sampul depannya jadi ciri khas buku Anak Kos Dodol. Agak kagok sih sebetulnya, nembus-nembus gitu, tapi untungnya aku beli buku ini di pasar buku murah Palasari, dan dapat bonus dikasih sampul plastik, gratiss (bawaan ogah rugi ala mahasiswa dulu masih kebawa aja sampai sekarang ini), jadi penutup ‘jendela’. Ilustrasi sampul juga cukup ‘mengundang’ nih, dan kupikir akan lebih asyik lagi kalau sesekali, di bagian dalam juga ada ilustrasi kecil pelengkap tulisan.
Pendek kata, aku mulai baca, dan segera juga mulailah aku senyum-senyum sendiri, walaupun nggak sampai terkikik apalagi terkakak. Cerita yang dipapar Dewi Dedew di buku ini, sedikit-banyaknya sudah pernah aku alami juga ketika aku jadi mahasiswa (yang nggak kalah dodol) tempo hari (halah... maunya dibilang tempo hari, padahal tahun kapaan... dulu. hihi.). Jadinya ya nggak ada yang terlalu mengagetkan, gitu, walaupun pengalaman pijitan sih nggak ada sejarahnya sih di tempat kos-ku dulu. Apalagi seperti Tere yang nekat cuma pake baju dalam dan andukan, melintas ke luar kamar untuk ke kamar sebelah. Idih banget. Di Puri Cantika Djokja, ada ya yang kayak gitu?
Satu kejadian dodol yang nggak pernah kubayangkan akan terjadi, adalah ketika dan teman-temannya coba-coba menjajal dunia ajep-ajep. Kapok kan, jadinya? Lagian, aneh bin ajaib aja ada anak kerudungan coba-coba masuk diskotik. Jangan-jangan disangka polisi yang menyamar (emang ada ya, polisi yang pake kerudung? Kalo di Aceh ada kali.)
Tapi sedodol-dodolnya anak kos, ternyata setia kawan juga ya mereka. Terharu-biru ketika Iis meninggal dunia di gunung. Saling menyemangati ketika mereka menjalani masa-masa pendadaran sebelum sidang kelulusan. Saling nungguin ketika sidang akhir masa perkuliahan. Saling nungguin traktiran, tentunya :p. Dan wisudaan jadi moment yang mengharukan, mengingat bahwa masa-masa sebagai anak kos dodol akhirnya harus berhenti. Tapi buat Dedew, setelah lepas jadi anak kos dodol, ‘karirnya’ tetap bisa berlanjut sebagai istri dodol dan emak-emak dodol. Iya kan...? Ayyooo, akui sajja...! :p