Kisah ini terjadi saat aku mengajar di sebuah sekolah Islam yang menerapkan sistem full day school, sekolah sehari penuh (padahal hanya dari pukul 7.30 sampai 16.00). Selain makan siang bersama, anak-anak pun melaksanakan shalat dua kali di sekolah. Siang itu aku baru membahas cara wudhu anak-anak yang masih berantakan, padahal mereka sudah kelas 3 SD. Kukatakan bahwa semua anggota wudhu mulai dari tangan hingga kaki, harus kena air wudhu secara sempurna agar pelaksaan shalat juga menjadi sah.Tahu-tahu Raihan nyeletuk, “Bu.. bu... kalau mau jadi anggota wudhu, daftarnya ke mana ya?” :p
Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata. Tampilkan semua postingan
Selasa, 12 Oktober 2010
Selasa, 09 Maret 2010
Pusat Bahasa
Beberapa waktu yang lalu, aku mencari data tertentu mengenai informasi kebahasaan, dan pencarian itu membawaku pada situs resmi Balai Bahasa Bandung, kemudian membawaku lebih jauh ke Pusat Bahasa Depdiknas. Salah satu informasi yang kurasa cukup menarik adalah mengenai penggunaan kata-kata jadian (bukan kata jadi-jadian) yang dibahas di bawah ini, kukutipkan dari sumber aslinya, yang bisa diakses di halaman ini.
Dalam bahasa Indonesia, imbuhan –wan berasal dari bahasa Sanskerta. Penggunaan akhiran itu digunakan bersama kata benda, seperti bangsawan ‘orang yang memiliki bangsa’, hartawan ‘orang yang memiliki harta’, dan rupawan ‘orang yang memiliki rupa yang elok’.Dalam perkembangannya, arti –wan meluas. Hal itu ditemukan pada kata ilmuwan ‘orang yang ahli dalam bidang ilmu tertentu’, negarawan ‘orang yang ahli dalam bidang ilmu negara’, dan fisikawan ‘orang yang ahli dalam bidang fisika’. Jadi, -wan dalam contoh itu berarti orang yang ahli dalam bidang yang disebutkan pada kata dasarnya.
Pada kata seperti olahragawan, peragawan, dan usahawan, imbuhan –wan berarti ‘orang yang berprofesi dalam bidang yang disebutkan pada kata dasarnya’. Jadi, olahragawan berarti ‘orang yang berprofesi dalam bidang olahraga’, peragawan ‘orang yang berprofesi dalam bidang peragaan’, dan usahawan ‘orang yang berprofesi dalam bidang usaha (tertentu).
Berdasarkan contoh tersebut, imbuhan –wan tidak pernah melekat pada kata kerja, seperti pada kata rela. Oleh karena itu, kata yang benar adalah sukarelawan yang berarti ‘orang yang dengan sukacita melakukan sesuatu tanpa rasa terpaksa’.
Labels:
bahasa,
Balai Bahasa Bandung,
kata,
Pusat Bahasa,
tata bahasa
Sabtu, 20 Februari 2010
Membicarakan kesalahan tulis yang biasa dilakukan orang Indonesia nih, rasanya bab ini masih akan panjang. Kutemukan tulisan ini ketika sedang berada dalam antrian panjang dalam perjalanan ke sekolah, ketika mobil yang kukendarai berhenti di antara padatnya lalu lintas.
Sebuah papan pengumuman penjual jasa terpampang di tepi jalan, mengundang perhatianku. Buatan tangan sih, jadi ketika ada kesalahan tulis sekalipun, rasanya masih wajar ya? ;) Servis Sperpart Komprgas. Memang papannya kecil, dan kemungkinan sang pembuat tidak cukup tepat mempertimbangkan space yang dia miliki dengan ukuran huruf yang ditulisnya. Jadi ketika tak mungkin menulis lengkap keseluruhan kata dengan tepat, singkatan pun dipergunakan. Kompr gas masih bolehlah... walaupun tanpa spasi sekalipun, tapi sperpart? Hm... Sudah saatnya orang Indonesia lebih memperhatikan kaidah penulisan kata dengan tepat. :)
Labels:
kata,
papan pengumuman,
tulisan
Langganan:
Postingan (Atom)
