Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Juli 2011

Serdadu Kumbang

hak cipta Alenia pictures
Liburan sekolah. Kusempatkan nonton film produksi Alenia Pictures ini. Serdadu Kumbang, kisah seorang anak lelaki berbibir sumbing yang bercita-cita menjadi penyiar televisi seperti Najwa Shihab. Amek, nama tokohnya, diperankan dengan baik oleh Yudi Miftahudin, seorang bocah sumbing dari Jakarta. Aktingnya natural, begitu yang kudengar dari wawancara di Kick Andy  beberapa waktu lalu. Sengaja kusiapkan tissue, karena aku yakin aku bakalan nangis berderai-derai menonton satu-dua scene sedih di film ini.
Amek sangat terobsesi untuk menjadi penyiar televisi seperti idolanya, Najwa Shihab. Dia kerap menonton berita dan menirukan gaya sang presenter di depan jendela rumahnya. Selain itu, dia pun joki yang handal. Yang membuatkau takjub, mereka betul-betul mengendarai kuda tanpa pelana!!! Luar biasa... Sementara itu, prestasinya di sekolah sebetulnya biasa-biasa saja, apalagi bila dibandingkan dengan Minun, sang kakak yang juara kelas hingga memenangi beberapa perlombaan bidang studi hingga tingkat kecamatan.
Desa tempat mereka tinggal memiliki sebuah pohon harapan tempat anak-anak itu menggantungkan cita-cita dan harapan mereka pada dahan dan ranting pohon tak berdaun itu. Semua anak menuliskan harapan dan cita-citanya dalam selembar kertas, memasukkannya ke dalam botol, kemudian menggantungkannya di pohon tersebut. Tragisnya, kakak Amek meninggal karena terjatuh dari pohon itu. Pohon yang indah, sebetulnya. 
Banyak pula gambar-gambar indah ditangkap oleh kamera yang diarahkan oleh Ari Sihasale. produser sekaligus sutradara film yang mengambil tempat di Nusa Tenggara Barat ini. Nia Zulkarnaen ikut main sebentaar saja, sebagai ibu dokter yang cantik dan baik hati. Di akhir cerita, bibir sumbing Amek dioperasi untuk memperbaiki bentuknya. Pemain Amek, Yudi Miftahudin, disarankan untuk sering-sering berlatih bersiul ;) Swit swiiww...!!!

Selasa, 21 September 2010

Sammy's Adventure: The Secret Passage

Alternate Title(s): Formerly Around the World in Fifty Years 3D
SAMMY'S ADVENTURES: THE SECRET PASSAGE tells the life story of a sea turtle from birth in 1959 to maturity in 2009. This computer-generated, animated tale is a coming-of-age movie about growing up and friendship. Spending 50 years in the oceans puts us in an unusual vantage point to witness some of the major changes that the ever growing human presence is having on our planet.
Aku bersama kakak dan tiga keponakan melewatkan satu hari liburan untuk bersama-sama menonton film di Cinema 21, Cihampelas Walk. Kami sengaja menonton di tengah pekan (hari Kamis) agar bisa mendapatkan harga tiket yang lebih murah dibandingkan jika kami membeli tiket di akhir pekan. 
Adik memilih film yang akan kami tonton. Dia memilih Sammy's adventure di Cinema 21 dibandingkan Cats and Dogs 2 di Blitz Megaplex. Kali ini aku mengajak mereka memonton film animasi 3 dimensi. Pengalaman pertama untuk mereka. 
Dengan menggunakan kacamata khusus untuk menonton film ini, kami bisa menyaksikan 'keajaiban' film 3 dimensi ini. Gambar-gambar bergerak di film itu, berbagai ikan serta binatang laut lainnya terlihat seolah nyata dan begitu dekat dengan kita. Ketiga keponakanku menyukainya. Tentu saja...
Satu hal lain yang juga terasa menyenangkan adalah 'keajaiban' bahwa ketiga keponakanku dengan rentang usia 4-12 tahun cukup mengerti jalan cerita dalam film itu. Setahuku, film-film 3 dimensi tidak menyediakan subtitle/teks terjemahan dalam bahasa Indonesia, termasuk film ini. Ketiga keponakanku yang notabene belum mengerti bahasa Inggris cukup mengerti jalan cerita bahkan dialog dalam film tersebut. Hanya sesekali mereka bertanya jika memang ada kata atau kejadian yang tidak mereka pahami dari adegan yang tersaji di layar lebar itu. Kupikir, keberadaan subtitle memang tidak terlalu penting, apalagi sampai menterjemahkan/ menyulih-suarakan berbagai dialog dalam film asing. Tapi... bahasan tentang itu akan kubahas di posting-an yang lain saja ya :)

Selasa, 06 April 2010

My Name is Khan, and I'm NOT a Terrorist

Akhirnya nonton juga… Setelah film ini ramai dibicarakan berminggu-minggu sebelumnya. Akhirnya aku sempatkan untuk menontonnya hari ahad yang lalu. Tidak ada teman yang bersedia menemani, ya… tak jadi masalah. Aku pergi menonton sendiri saja. Dan tidak menyesal. Tidak menyesal sama sekali. Baru kali ini aku sangat setuju dengan berbagai resensi dan referensi yang menyebutkan keunggulan film ini.
Shahrukh Khan main bagus sebagai Rizvan Khan yang menderita sindrom asperger. Dia takut pada orang baru, suara keras, dan warna kuning. Semi autis, begitu kira-kira. Konflik Muslim-Hindu, juga aksi anarkis bagi para muslim di Amerika pasca tragedi WTC 911, dikuak dengan cukup gamblang di film ini (yang memang tidak mungkin dibuat terlalu blak-blakan). Duet Shahrukh dan Kajol sangat kompak. Mereka berdua main bagus. Tidak terlalu menguras emosi, tapi mataku sempat sepet juga, cukup sering disusut tisyu soalnya. Hiks. Emang aku agak-agak sentimentil rupanya. Hehe…
Sosok Bush junior terlihat sangat mirip dengan aslinya, begitu pula dengan penggambaran masa pemerintahannya yang sangat represif terhadap muslim yang dianggapnya teroris. Sedangkan sosok Obama terlihat cukup kharismatik, walaupun wajahnya tidak terlalu mirip dengan yang asli. Menurutku, Ilham Anas yang orang Indonesia terlihat lebih mirip dengan Obama asli ;)
Harus kuakui, aku bukan peresensi yang baik. Masih banyak belajar, tapi aku mau mencoba, dan kumulai dengan resensi kecil mengenai film ini. Beberapa resensi yang bagus bisa dilihat di sini dan di sini (walaupun agak terlalu panjang).
Selain bukan penulis resensi sejati, aku juga bukan penggemar film-film Bollywood sebetulnya. Aku juga bukan anggota Shahrukh Khan Fans Club atau semacamnya. Tidak sama sekali. Tapi aku berani mereferensikan film ini untuk siapa saja yang ingin menonton film bagus dan belajar suatu hal yang baik darinya. Ibunda Rizvan mengajarkan satu hal bagus pada Rizvan, bahwa di dunia ini hanya ada dua jenis orang, yaitu orang yang baik, dan orang yang jahat. Dan kita hanya perlu jadi orang baik. Itu saja.
Rizvan berani menunjuk dadanya sendiri, menyampaikan ucapan sederhananya dengan penuh perjuangan kepada presiden Amerika Serikat, dan berkata dengan berani, “My Name is Khan, and I’m not a terrorist.” Kupikir, kita yang muslim juga harus berani berucap dan bersikap serupa. Kita tunjukkan dalam ucap dan sikap, bahwa kita adalah muslim yang baik.