Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Juni 2013

Lomba Review Buku Berhadiah Umrah

Buku karya Hanum Salsabiela Rais, 99 Cahaya Di Langit Eropa merupakan sebuah fenomena. Menyambung kesuksesan buku itu, kisah berlanjut dengan sebuah buku lainnya, Berjalan di Atas Cahaya. Keduanya menarik, walaupun kisah di dalamnya terasa masih kurang panjang, menurutku. Masih ingin lanjutan kisah-kisah lainnya, penemuan cahaya di benua biru itu. Jadi ingin baca lagi, buat resensinya, publikasikan, dan dapatkan hadiah berupa paket umrah. Subhanallah. InsyaAllah.
Untuk mendapatkan hadiah semenarik itu, tentu perlu usaha ekstra. Tidak asal ikut serta, lalu sekedar menanti keberuntungan melalui undian. Cermati bukunya, tulis resensinya, publikasikan di media cetak atau media online. Persyaratan serta info lengkapnya bisa dilihat di sini.

Sabtu, 10 April 2010

Anak Kos Dodol Kumat Lagi

Awalnya kubeli buku AKDKL ini dengan pertimbangan bahwa keponakanku yang sulung akan segera masuk masa kuliah. Dia sangat berminat kuliah di Bandung, mengikuti jejak langkah tantenya sebagai mahasiswi Seni Rupa ITB (hehe... padahal ibunya setengah hati mendukung. Takut anaknya jadi setengah gila seperti aku. Kaliii. :p)
Sebelum buku itu kuberikan pada Tasya, ponakanku, tentunya buku itu harus lewat badan sensor lebih dulu, yaitu aku (emang cita-cita sih, jadi anggota badan sensi eh sensor). Tampilan bukunya yang ‘menor’ kali ini, dengan warna merah menyala setelah buku-buku sebelumnya putih saja, bikin semangat ikut membara untuk membacanya. Lubang-lubang di sampul depannya jadi ciri khas buku Anak Kos Dodol. Agak kagok sih sebetulnya, nembus-nembus gitu, tapi untungnya aku beli buku ini di pasar buku murah Palasari, dan dapat bonus dikasih sampul plastik, gratiss (bawaan ogah rugi ala mahasiswa dulu masih kebawa aja sampai sekarang ini), jadi penutup ‘jendela’. Ilustrasi sampul juga cukup ‘mengundang’ nih, dan kupikir akan lebih asyik lagi kalau sesekali, di bagian dalam juga ada ilustrasi kecil pelengkap tulisan.
Pendek kata, aku mulai baca, dan segera juga mulailah aku senyum-senyum sendiri, walaupun nggak sampai terkikik apalagi terkakak. Cerita yang dipapar Dewi Dedew di buku ini, sedikit-banyaknya sudah pernah aku alami juga ketika aku jadi mahasiswa (yang nggak kalah dodol) tempo hari (halah... maunya dibilang tempo hari, padahal tahun kapaan... dulu. hihi.). Jadinya ya nggak ada yang terlalu mengagetkan, gitu, walaupun pengalaman pijitan sih nggak ada sejarahnya sih di tempat kos-ku dulu. Apalagi seperti Tere yang nekat cuma pake baju dalam dan andukan, melintas ke luar kamar untuk ke kamar sebelah. Idih banget. Di Puri Cantika Djokja, ada ya yang kayak gitu?
Satu kejadian dodol yang nggak pernah kubayangkan akan terjadi, adalah ketika dan teman-temannya coba-coba menjajal dunia ajep-ajep. Kapok kan, jadinya? Lagian, aneh bin ajaib aja ada anak kerudungan coba-coba masuk diskotik. Jangan-jangan disangka polisi yang menyamar (emang ada ya, polisi yang pake kerudung? Kalo di Aceh ada kali.)
Tapi sedodol-dodolnya anak kos, ternyata setia kawan juga ya mereka. Terharu-biru ketika Iis meninggal dunia di gunung. Saling menyemangati ketika mereka menjalani masa-masa pendadaran sebelum sidang kelulusan. Saling nungguin ketika sidang akhir masa perkuliahan. Saling nungguin traktiran, tentunya :p. Dan wisudaan jadi moment yang mengharukan, mengingat bahwa masa-masa sebagai anak kos dodol akhirnya harus berhenti. Tapi buat Dedew, setelah lepas jadi anak kos dodol, ‘karirnya’ tetap bisa berlanjut sebagai istri dodol dan emak-emak dodol. Iya kan...? Ayyooo, akui sajja...! :p

Selasa, 06 April 2010

My Name is Khan, and I'm NOT a Terrorist

Akhirnya nonton juga… Setelah film ini ramai dibicarakan berminggu-minggu sebelumnya. Akhirnya aku sempatkan untuk menontonnya hari ahad yang lalu. Tidak ada teman yang bersedia menemani, ya… tak jadi masalah. Aku pergi menonton sendiri saja. Dan tidak menyesal. Tidak menyesal sama sekali. Baru kali ini aku sangat setuju dengan berbagai resensi dan referensi yang menyebutkan keunggulan film ini.
Shahrukh Khan main bagus sebagai Rizvan Khan yang menderita sindrom asperger. Dia takut pada orang baru, suara keras, dan warna kuning. Semi autis, begitu kira-kira. Konflik Muslim-Hindu, juga aksi anarkis bagi para muslim di Amerika pasca tragedi WTC 911, dikuak dengan cukup gamblang di film ini (yang memang tidak mungkin dibuat terlalu blak-blakan). Duet Shahrukh dan Kajol sangat kompak. Mereka berdua main bagus. Tidak terlalu menguras emosi, tapi mataku sempat sepet juga, cukup sering disusut tisyu soalnya. Hiks. Emang aku agak-agak sentimentil rupanya. Hehe…
Sosok Bush junior terlihat sangat mirip dengan aslinya, begitu pula dengan penggambaran masa pemerintahannya yang sangat represif terhadap muslim yang dianggapnya teroris. Sedangkan sosok Obama terlihat cukup kharismatik, walaupun wajahnya tidak terlalu mirip dengan yang asli. Menurutku, Ilham Anas yang orang Indonesia terlihat lebih mirip dengan Obama asli ;)
Harus kuakui, aku bukan peresensi yang baik. Masih banyak belajar, tapi aku mau mencoba, dan kumulai dengan resensi kecil mengenai film ini. Beberapa resensi yang bagus bisa dilihat di sini dan di sini (walaupun agak terlalu panjang).
Selain bukan penulis resensi sejati, aku juga bukan penggemar film-film Bollywood sebetulnya. Aku juga bukan anggota Shahrukh Khan Fans Club atau semacamnya. Tidak sama sekali. Tapi aku berani mereferensikan film ini untuk siapa saja yang ingin menonton film bagus dan belajar suatu hal yang baik darinya. Ibunda Rizvan mengajarkan satu hal bagus pada Rizvan, bahwa di dunia ini hanya ada dua jenis orang, yaitu orang yang baik, dan orang yang jahat. Dan kita hanya perlu jadi orang baik. Itu saja.
Rizvan berani menunjuk dadanya sendiri, menyampaikan ucapan sederhananya dengan penuh perjuangan kepada presiden Amerika Serikat, dan berkata dengan berani, “My Name is Khan, and I’m not a terrorist.” Kupikir, kita yang muslim juga harus berani berucap dan bersikap serupa. Kita tunjukkan dalam ucap dan sikap, bahwa kita adalah muslim yang baik.